@ndikaCP

SELAMAT DATANG

Selamat datang para pengunjung klinikdokterparu.com- portal informasi kesehatan paru dan saluran napas. Disini kami akan berusaha menyajikan informasi, tips dan berita  menarik seputar kesehatan paru dan saluran napas. Di portal ini terdapat beberapa kategori yang sesuai dengan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan organ paru dan saluran napas sehingga pengunjung tinggal meng-klik kategori penyakit yang diinginkan.

Untuk para downloaders kami juga menyediakan link download gratis artikel dan buku-buku kedokteran. Anda dapat mudah mencarinya di kategori GRATIS JURNAL & BUKU

Jangan tunggu lagi segera SUBSCRIBE untuk mendapatkan informasi terbaru dari klinikDOKTERPARU.com  (untuk men-subscribe silahkan klik logo warga kuning pada pojok kiri atas dari portal ini atau daftarkan email anda di subscribe email).

Share
@ndikaCP

Tahukah anda bagaimana rokok melumpuhkan fungsi paru

Rokok merupakan hobi yang merusak!.. semua orang sudah tahu.. bahkan perokok sekalipun sudah tahu itu. Karena disetiap bungkus rokok yang mereka hisap sudah tertera tulisan bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, Impotensi, Gangguan Kehamilan dan Janin. Hampir semua orang juga tahu bahwa pada rokok terkandung ribuan zat kimia yang merusak serta terkandung nikotin-tar yang menyebabkan ketagihan. Tetapi tidak banyak tahu bagaimana proses rokok ini merusak paru?..Pada tulisan ini saya akan mengupas sedikit tentang mekanisme rokok dalam merusak paru tersebut.

Paru sebagai organ maha penting yang mengurusi oksigen tentunya dilengkapi berbagai sistem pertahanan yang menjaga agar si paru terus bekerja secara fisiologis. Fungsi ini perlu terus dipertahankan dengan baik karena oksigen merupakan  salah satu komponen kehidupan terpenting disamping makanan dan minuman. Manusia masih bisa bertahan hidup tanpa makan dan minum beberapa hari tetapi hanya bisa bertahan tidak lebih dari 3 menit tanpa oksigen. Sistem pertahanan paru yang kompleks sudah dimulai sejak awal masuknya sistem pernapasan yaitu hidung. Di hidung, cilia (rambut-rambut) hidung akan mem-filter partikel asing dan mucous membrane akan menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk. Disamping menghangatkan dan melembabkan udara, mukus ini juga berfungsi untuk menangkap kotoran dan kuman-kuman yang masuk bersama udara yang dihirup. Banyak tidak menyangka bahwa bersin juga merupakan salah satu metode pertahanan paru karena dengan bersin maka partikel-partikel yang mengiritasi hidung dan nasopharinx tersebut dapat dikeluarkan tubuh.

Setelah hidung, sistem pertahanan paru juga ada di epiglotis (yaitu semacam lapisan penutup yang berada di daerah larynx). Epiglotis ini berfungsi menutup larynx jika ada makanan atau partikel lain yang salah masuk, sehingga paru tidak bisa dilewati oleh partikel tersebut. Larynx sendiri juga merupakan bagian pertahanan paru karena saat larynx ini diiritasi maka larynx akan mengecil yang disebut sebagai laryngospasm. Sehingga dengan fungsi epiglotis dan laryngospasm tersebut maka partikel tersebut tidak bisa masuk trakea (tenggorokan). Tetapi walaupun sudah berlapis pertahanan paru masih saja ada bakteri, virus yang dapat masuk. Untuk itu di paru juga dilengkapi pertahanan berupa mukus yang dihasilkan oleh sel goblet serta cilia (semacam rambut) yang terus bergerak 1000-1500x/menit untuk membuang virus, bakteri bahkan debu. Partikel-partikel yang ditangkap oleh mukus itu untuk kemudian dibuang keluar paru melalui mekanisme batuk. Disamping berupa mukus dan cilia, paru juga dilengkapi oleh makrofag yang terdapat di alveoli (bagian terkecil paru berukuran 1-2 mikron) yang akan menangkap, menelan dan akhirnya membuang bakteri/virus/debu yang merusak kerja paru.sehingga alveoli tetap steril.

Jika kita sudah memahami mekanisme pertahanan paru diatas, akhirnya kita bertanya bagaimanakah rokok merusak sistem pertahanan berlapis yang dimiliki oleh paru tersebut. Pada saat perokok memulai hisapan mautnya maka ribuan zat kimia akan masuk paru. Gas-gas kimia beracun tersebut secara ukuran sangatlah kecil sehingga menyulitkan mukus untuk menangkap dan mem-filter-nya sehingga gas beracun tersebut dapat masuk ke daerah steril alveoli. Seiring dengan masuknya gas beracun dari rokok tersebut maka rokok mulai mempengaruhi fungsi normal cilia. Rokok memperlambat kerja dari cilia sehingga tidak optimal dalam menyapu partikel-partikel asing yang merusak paru. Disisi lain, rokok juga merangsang sel goblet sebagai penghasil mukus untuk memproduksi lebih banyak mukus tetapi tidak sinkron dengan fungsi pembuangan dari cilia yang jauh berkurang. Akibatnya terjadi penumpukan mukus yang merupakan tempat yang menyenangkan bagi bakteri untuk berkembang, ahirnya infeksi paru pun terjadi. Inilah sebabnya kenapa perokok lebih sering menderita infeksi paru dibanding bukan perokok.

Sifat merusak rokok tersebut bukan itu saja. Timbunan tar yang terdapat pada rokok merangsang paru untuk mengeluarkan enzim protease yang tujuan utama sebenarnya untuk menetralisr tar tetapi untuk jangka waktu lama malah enzim ini merusak jaringan paru. Lagi pula makrofag sebagai pemakan bakteri telah lebih dahulu dirusak oleh rokok yang berakibat “tentara” paru sangat berkurang dalam mempertahankan daerah sterilnya.

Efek rokok memang sangat banyak sampai saya sendiri bingung efek apalagi yang ditulis duluan. Ok..kita lanjutkan efek lainnya. Kita tahu bahwa hasil pembakaran utama dari rokok adalah karbonmonoksida. Tetapi sadarkah perokok bahwa karbonmonoksida (CO) ini mempunyai ikatan kuat terhadap hemoglobin yang berfungsi sebagai kendaraan untuk membawa oksigen ke sel-sel tubuh yang membutuhkan. Dengan ikatan antara CO-Hb yang kuat berakibat oksigen yang dibawa pun berkurang. Perokok bukan saja menghirup oksigen lebih sedikit tetapi juga memberikan oksigen ke sel-sel tubuh berkurang dari yang dibutukan sel tubuh.

Jadi sekali lagi rokok bukan saja merusak paru perokok yang maha penting tetapi juga paru anak-anak, keluarga mereka. Dari sekarang berkonsultasilah ke klinik berhenti merokok.!

Share
@ndikaCP

Terapi kanker paru yang tersedia saat ini

Karumah sakitnker paru saat ini masihlah penyakit yang paling lethal diantara jenis kanker lainnya. Belum adanya deteksi dini yang sensitif, berakibat penemuan kasus kanker paru sering terlambat yang berakibat survival rate-nya sangat rendah. Tetapi jika kanker paru dapat didiagnosis saat masih pada stadium awal maka secara signifikan angka bertahan hidupnya meningkat tajam.

Dokter paru bekerjasama dengan dokter ahli lainnya seperti dokter bedah, dokter radiologi onkologi dengan assist dari dokter radiologi dan dokter patologi berusaha sekuat tenaga dalam “mematikan” sel-sel kanker paru dengan berbagai cara. Saat ini tiga modaliti terapi kanker paru masih merupakan cara utama dalam menangani kanker paru. Tiga modaliti pengobatan tersebut yaitu pembedahan, radioterapi dan kemoterapi. Pembedahan paru berupa “pembuangan” tumor termasuk kelenjar limfe masih merupakan pilihan pertama bagi kasus kanker paru stadium awal. Sedangkan radioterapi merupakan metoda “mematikan” sel kanker dengan menggunakan sinar radiasi sehingga dengan matinya sel kanker diharapkan tumornya mengecil. Tetapi perlu diketahui bahwa kedua terapi diatas yaitu pembedahan dan radioterapi merupakan pengobatan secara lokal. Artinya hanya membuang atau mematikan tumor pada lokasi yang dituju saja. Modaliti ketiga yang merupakan kompetensi dokter paru adalah kemoterapi. Berbeda dengan bedah dan radioterapi maka kemoterapi bersifat sistemik, artinya dapat mematikan sel-sel kanker asal ada aliran darah menuju lokasi kanker tersebut. Karena sifatnya menyeluruh tersebut maka sel-sel normal pun tak terkecuali dapat dipengaruhi oleh obat kemoterapi ini. Kebanyakan kemoterapi diberikan secara intravena dengan kata lain obat dimasukan ke pembuluh darah balik. Walaupun sebagian besar diberikan intravena tetapi ada juga kemoterapi dalam bentuk pil dan diberikan secara oral.

Disamping tiga modaliti konvensional kanker paru tersebut maka akhir-akhir ini karena kemajuan dibidang biologi molekular maka terdapat obat yang secara spesifik mempengaruhi kerja molekul tertentu. Modaliti ini disebut juga sebagai “targeted therapy”. Walaupun targeted therapy ini dianggap sebagai pengobatan sistemik tetapi memberikan efek samping yang sedikit dibanding kemoterapi konvensional. Hal ini disebabkan targeted therapy tidak mempengaruhi sel-sel normal. Beberapa obat targeted therapy yang sudah beredar saat ini seperti Erlotinib, Gefitinib serta Bevacizumab. Keempat cara terapi kanker paru tersebut tentulah terus akan dikembangkan melalui clinical trial yang bertambah tiap tahun untuk mendapatkan terapi yang mumpuni.

Alternatif lainnya yang masih memerlukan penelitian yang sangat panjang serta pembuktian efektifiti dan safety adalah terapi herbal. Setelah bukti-bukti empiris dapat diberikan oleh peneliti terapi herbal barulah nanti terapi ini dapat dipakai. Tetapi sepanjang hanya berupa “gosip” belaka maka keampuhannya masih dipertanyakan.

Share
@ndikaCP

Pertanyaan yang paling sering dan paling dibenci pasien kanker paru

no smokingTulisan ini saya tulis terinspirasi saat sedang membaca buku tentang kumpulan kisah pasien kanker paru dalam buku “Voices of Lung Cancer, The healing Companion:Stories for Courage, Comfort and Strength”. Didalam buku tersebut dituliskan berbagai macam pengalaman, rasa duka, kebencian, putus asa dan perasaan campur aduk yang dirasakan oleh penderita kanker paru. Saya tidak berniat untuk mensinopsis buku tersebut tetapi akan menjelaskan salah satu kisah didalam buku tersebut.

Seorang pasien kanker paru berkisah..apa yang akan diucapkan oleh seseorang terhadap seseorang yang baru saja di diagnosis kanker paru..jawabnya adalah..Oh my God,.I am so sorry..padahal tidak ada yang perlu di maafkan. Selanjutnya orang lain tersebut pasti akan bertanya..apakah anda merokok?…Sebuah pertanyaan sering dan malah teramat sering dilontarkan oleh orang-orang sekitar. Tetapi tahukah kita sebagai BUKAN penderita kanker paru bahwa pertanyaan yang dianggap biasa tersebut merupakan hal yang sudah basi bagi penderita tetapi juga bersifat menyudutkan si pasien.

Mungkin saja maksud kita bukan untuk menyudutkan, apalagi menyalahkan tetapi bagi pasien kanker paru mereka mengungkapkan ..again and again that question and I feel hurt by it, whether they smoked or not. Why? Because when we’re fighting lung cancer we’re not looking back, we’re looking forward. We need compassion, not blame or shame. We need support. And we need hope. Ungkapan senada dari penderita kanker paru juga diungkapkan pada buku Help Me Live: 20 Things People with Cancer Want You to Know.

Dari kisah diatas, pertanyaan tersering dan mungkin paling dibenci pasien kanker paru tersebut bisa dijadikan alat untuk mengedukasi teman, sahabat dan keluarga bahwa merokok tersebut pastinya tidak menguntungkan (bagi kanker paru perokok). Dapat juga disampaikan bahwa 15-20% dari pasien kanker paru merupakan orang-orang tidak pernah menyentuh rokok dan bahkan 80% dari non smoker lung cancer tersebut adalah wanita. Hal yang sampai saat ini belum sepenuhnya dimengerti oleh para ahli paru, ahli kanker dan masih menjadi area penelitian yang terus diteliti untuk bisa dipahami. Dengan pertanyaan itu juga pasien kanker paru menanyakan hal yang sama kepada si penanya..Kenapa sampai saat sekarang kita masih membiarkan anak-anak, adik-adik kita masih bebas merokok dan kenapa pula kita juga masih membiarkan televisi dirumah kita dipenuhi oleh program-program dengan perokok sebagai sosok macho, cool? Kenapa juga kita masih membiarkan pabrik rokok meningkatkan kadar nikotin rokok untuk meningkatkan keterikatan (adiksi) dengan korban rokok?

Tetapi akhir dari kisah diatas, hal yang perlu dipetik bahwa sebelum bertanya kepada penderita kanker paru walaupun mereka perokok ada baiknya menjaga perasaan mereka akan perasaan bersalah, malu atau dipersalahkan. We can help others and ourselves live better lives, lives of hope and compassion.

 

Share
@ndikaCP

Cara berhenti merokok dari sudut agama Islam

Share
@ndikaCP

Kenapa kanker paru lebih sering diketahui saat stadium sudah lanjut?

Sering kita dapati seseorang pasien merasa terkejut dan tidak percaya ketika didiagnosis oleh dokter paru sebagai penderita kanker paru stadium IV. Pasien tersebut merasakan keluhannya baru saja dirasakan tetapi kok sudah divonis stadium IV. Hal tersebut sering sekali kita dapati dan itu bukan hanya terjadi di Indonesia saja tetapi bahkan terjadi juga di negara semaju Jepang dan Amerika Serikat. Lalu berarti ada sesuatu yang menyebabkan kenapa kanker paru sering memunculkan gejala saat kankernya sudah lanjut?

Tiadanya saraf didalam paru sebagai “perasa” tubuh menjadi penyebab utama kenapa seringkali penyakit dirasakan gejalanya saat sel-sel kankernya sudah menyebar ke organ lain. Kanker paru seringkali ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan rutin rontgen torak atau pemeriksaan untuk penyakit lainnya. Karena tiadanya saraf didalam paru tersebut maka tumor seringkali sudah tumbuh tanpa menimbulkan nyeri dan gejala khas lainnya. Disamping disebabkan oleh tidak adanya saraf tersebut, hal lainnya adalah belum adanya deteksi dini ataupun marker yang menjadi pedoman bagi dokter dalam mendiagnosis kanker paru lebih awal. Memang ada usulan penggunaan rontgen torak ataupun CT-Scan yang dilakukan secara rutin terutama bagi orang yang berisiko tinggi untuk menderita kanker paru seperti perokok, pekerja di reaktor nuklir tetapi hasilnya tidak cukup mengembirakan. Disamping itu pemeriksaan dini dengan alat CT-Scan tersebut juga diduga tidak memberikan perbaikan survival pasien secara signifikan.

Sehingga dalam penanganan kanker paru yang terpenting adalah pencegahan. Yaitu dengan mencegah diri anda untuk merokok dan mencegah lingkungan anda dari paparan rokok. Disamping rokok, kita juga menyadari akan resiko-resiko lainnya seperti radon, asbestos, polusi udara, dan pengaruh genetik.

 

Share
Page 1 of 1412345...10...Last »

Switch to our mobile site